Wakili Indonesia di Oscars 2024, Makbul Mubarak Kampanyekan “Autobiography” di AS

7 min read

Resmi mewakili Indonesia untuk meraih nominasi di ajang sebesar Oscars, menurut Makbul bukanlah sebuah pencapaian semata, namun merupakan tanggung jawab. Ia mengatakan, dengan terpilihnya “Autobiography,” bukan berarti kini ia hanya seperti “menunggu lotere” dan menanti “nasib akan berkata apa.”

Aktor Kevin Ardilova (kanan) dalam film "Autobiography" dok: Kawan Kawan Media


Aktor Kevin Ardilova (kanan) dalam film “Autobiography” dok: Kawan Kawan Media

“Kalau dibilang pencapaian, apa yang dicapai gitu?” ujar Makbul Mubarak sambil bercanda kepada VOA Indonesia., saat mengkampanyekan filmnya itu Los Angeles, California.

“Kita kan dipilih di Jakarta. Itu kan kayak semacam dikasih surat tugas gitu, ‘nih, kamu pergi mewakili Indonesia. Itu kan sebenarnya kita bekerja. Ada tanggung jawabnya,” tambahnya.

Makbul mengatakan sebelum dipromosikan secara gencar di Ameriak Serikat, “ Autobiography” sudah diputar di berbagai festival film internasional dan diperkenalkan di lebih dari 50 negara.

Undang Anggota Academy

Tahun ini ada 88 negara yang mendaftarkan filmnya untuk berkompetisi meraih nominasi Academy Awards di kategori film internasional terbaik. Setelah dipilih oleh komite di negara masing-masing, film-film itu biasanya dipromosikan lewat berbagai kampanye, khususnya di Amerika Serikat.

Hal ini dilakukan untuk menarik perhatian para anggota penyelenggara Academy Awards, Academy of Motion Picture Arts and Sciences(AMPAS) , yang memiliki hak suara untuk memilih terkait nominasi.

“Saya baca itu kemarin antara 9.500 sampai 10 ribu member yang bisa vote, mungkin yang aktif ada 1.000 atau 2.000,” jelas Makbul Mubarak.

“Kita harus memberi tahu mereka bahwa ada nih film Indonesia,” tambahnya.

Kampanye pun lalu dilakukan dengan mengundang orang-orang yang kerap disebut sebagai anggota Academy, yang bisa memilih, untuk menonton filmnya dan mengenal sosok pembuatnya.

“Karena kayaknya kalau kita tidak campaign ke Los Angeles, Academy member bahkan tidak aware bahwa Indonesia itu submit gitu. Karena sekian banyaknya noise gitu, sekian banyaknya film yang campaign, sehingga kita juga harus muncul pelan-pelan untuk kayak, ‘hey, kami juga ikutan lho, ini filmnya,’” kata sutradara kelahiran 1990 ini.

Makbul mengutarakan biasanya dalam sebuah kampanye ada acara ramah tamah dan makan-makan yang bertujuan untuk memperkenalkan film kepada para anggota AMPAS dan meraih dukungan mereka.

“Bahkan sampai kita bayarin parkirnya,” kata Makbul sambil tertawa.

Untuk melakukan kampanye, timnya melibatkan para produser dan pemerintah Indonesia serta tim hubungan masyarakat yang ditunjuk di AS.

“Kalau misalnya syukur-syukur kita punya distributor Amerika Serikat, dia juga bisa ikut membantu. Kalau misalnya sutradara atau produsernya punya talent representation, itu juga bisa ikut membantu. Jadi elemennya banyak sekali untuk kita membangun awareness pada voter-voter di Amerika ini, bahwa ada film dari Indonesia yang in contention, gitu. Yang ikut,” jelasnya.

Hal serupa juga dilakukan oleh sutradara asal Korea Selatan, Um Tae-hwa yang filmnya “Concrete Utopia” terpilih mewakili negaranya untuk bersaing.

Tahun 2020, Korea Selatan menjadi sorotan di ajang Academy Awards setelah film “Parasite” berhasil membawa pulang piala di empat kategori bergengsi, yaitu film terbaik, sutradara terbaik, naskah orisinal terbaik, dan film internasional terbaik. “Parasite” menjadi film non bahasa Inggris pertama dalam sejarah Academy Awards yang berhasil menang di kategori film terbaik.

Sutradara Um Tae-hwa di ajang pemutaran perdana "Concrete Utopia" di Toronto International Film Festival, Kanada (REUTERS)


Sutradara Um Tae-hwa di ajang pemutaran perdana “Concrete Utopia” di Toronto International Film Festival, Kanada (REUTERS)

“Masih banyak yang harus dilakukan,” ujar Um Tae-hwa kepada VOA Indonesia belum lama ini.

“Tapi saya akan berusaha melakukan yang terbaik. Secara pribadi, menurut saya ini adalah kesempatan sekali dalam seumur hidup. Saya merasa bersyukur dan senang akan kesempatan ini,” tambahnya.

Pengamat film di Indonesia, Tam Notosusanto yang selalu mengikuti ajang Academy Awards, khususnya kategori film internasional mengatakan, meski sederetan film-film ini sudah punya nama, mereka kerap masih perlu mengeluarkan dana yang besar untuk memasang iklan di berbagai media, seperti Variety dan Hollywood Reporter agar bisa bersaing dengan film-film dari negara lain.

“Dan karena sudah multimedia jadi di website juga muncul, di Instagram juga muncul yang ‘for your consideration.’ Itu kabarnya mahal itu. Jadi memang hanya studio yang besar yang bisa afford itu,” jelas Tam Notosusanto kepada VOA.

“Jadi kalau negara-negara kecil, negara-negara Asia Tenggara yang enggak punya modal ya cuman jadi peserta aja,” tambahnya.

Menuju Nominasi Oscar

Situs Oscars.org menyebut beberapa syarat yang harus diikuti untuk bisa berkompetisi meraih nominasi di kategori film internasional terbaik. Tiga diantaranya adalah memiliki durasi lebih dari 40 menit, diproduksi di luar Amerika Serikat dan wilayah-wilayah teritorialnya, dan lebih dari 50% dialognya bukan dalam bahasa Inggris.

“Kalau untuk international feature film category kita tidak ada requirement untuk tayang di Amerika Serikat, karena kita hanya harus tayang di negara kita sendiri. Kalau enggak salah tuh 7 hari ya di bioskop, di negara yang diwakilinya,” jelas Makbul.

Selanjutnya anggota Academy yang aktif akan diundang untuk menonton film-film yang didaftarkan dan memilih secara rahasia tidak lebih dari 15 film. Lima belas film yang berhasil meraih suara terbanyak akan berlanjut ke pemilihan selanjutnya, dimana hanya 5 film dengan suara terbanyak yang akan dipilih dan meraih nominasi di kategori film internasional terbaik.

“Dan lima yang akhirnya muncul tuh judul-judul yang sudah predictable yang menang di Cannes (festival film Cannes.red), yang menang di Berlin (festival film Berlin.red), yang menang di Sundance (festival film.Sundance),” kata Tam Notosusanto.

Tema Favorit

Menurut pengamatan Tam Notosusanto, berdasarkan sejarah, film internasional yang biasanya terpilih menang di ajang Academy Awards adalah film yang ceritanya paling akrab di mata para anggota Academy.

Tam Notosusanto, pengamat film dan ajang Academy Awards di Indonesia saat diwawancara oleh VOA (dok: Zoom)


Tam Notosusanto, pengamat film dan ajang Academy Awards di Indonesia saat diwawancara oleh VOA (dok: Zoom)

“Jangan dikatakan bahwa pemilih Academy itu orang yang sangat netral, enggak, dia tetap subjektif ya. ‘Apa yang saya suka ya, apa yang saya suka,’ yaitu nomor 1 yang saya bisa relate,’ jelas Tam Notosusanto.

Lagi-lagi berdasarkan pengamatan Tam, yang menjadi benang merah film-film internasional yang pada akhirnya berhasil menang di Academy Awards adalah tema urban.

Sutradara "Prasite" Bong Joon Ho di ajang Oscars 2020 di Los Angeles (Jordan Strauss/Invision/AP)


Sutradara “Prasite” Bong Joon Ho di ajang Oscars 2020 di Los Angeles (Jordan Strauss/Invision/AP)

Sebagai contoh, film Iran bertajuk ‘A Separation’ karya Asghar Farhadi yang membawa kemenangan pertama bagi Iran di ajang Academy Awards tahun 2012, dan film ‘Parasite’ yang tidak hanya berhasil menang di kategori-kategori bergengsi, antara lain film internasional terbaik, film terbaik, dan sutradara terbaik untuk Bong Joon-ho pada tahun 2020.

“Iran juga berapa kali dinominasikan juga dengan cerita-cerita rural gitu enggak pernah diperhatikan. Tiba-tiba ‘A Separation’ menang. ‘A Separation’ filmnya sangat urban sekali. Ceritanya tidak (pedesaan), di kota. Orang kota. Problem orang kota. Tapi orang kota di Teheran. Jadi itu yang membuat cukup eksotis. Untuk itu Academy bisa menerima. Beberapa tahun kemudian kita tahu sendiri ‘Parasite’ menang, lagi-lagi cerita urban. Jadi menurut saya itu kuncinya,” kata Tam.

Aktor Arswendy Bening Swara (kiri) dan Kevin Ardilova (kanan) dalam film "Autobiography" dok: Kawan Kawan Media


Aktor Arswendy Bening Swara (kiri) dan Kevin Ardilova (kanan) dalam film “Autobiography” dok: Kawan Kawan Media

Film “Autobiography” yang merupakan film panjang pertama dari Makbul Mubarak bercerita tentang seorang pensiunan jendral bernama Purna yang kembali ke sebuah desa dimana ia berkampanye untuk menjadi bupati. Film bertema drama thriller ini menyoroti hubungan antara Purna dan anak muda bernama Rakib, yang keluarganya secara turun temurun bekerja sebagai pelayan Purna.

Film ini menampilkan aktor Arswendy Bening Swara yang memerankan tokoh Purna, dan Kevin Ardilova yang memerankan Rakib.

Aktor Arswendy Bening Swara dalam film "Autobiography" dok: Kawan Kawan Media


Aktor Arswendy Bening Swara dalam film “Autobiography” dok: Kawan Kawan Media

Hingga kini film “Autobiography” sudah diputar di berbagai festival film internasional bergengsi seperti Venice International Film Festival di Italia, Toronto International Film Festival di Kanada, dan Busan International Film Festival di Korea Selatan.

“Autobiography” juga banyak memenangkan penghargaan di berbagai festival film internasional, seperti penghargaan FIFPRESCI (International Federation of Film Critics) di Venice International Film Festival dan Marrakech International Film Festival di kategori aktor terbaik untuk Arswendy Bening Swara.

AMPAS menyebut nominasi Academy Awards ke-96 akan diumumkan tanggal 23 Januari 2024. Acara pengaugerahan penghargaannya sendiri akan berlangsung pada t10 Maret 2024 di Los Angeles, California, dengan menampilkan kembali pembawa acara Jimmy Kimmel. [di/ab]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours