Satu Relawan Mer-C Dievakuasi dari Gaza

4 min read

Farid Zanzabil Al Ayubi, relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang sebelumnya menjalankan tugas kemanusiaan di Rumah Sakit Indonesia, di Gaza Utara, pada Sabtu (9/12) sekitar pukul 19.00 waktu Indonesia bagian barat, berhasil di evakuasi.

Farid bergerak ke gerbang Rafah bagian Gaza diantar oleh beberapa relawan sekitar pukul tujuh pagi. Bersama puluhan korban luka-luka dan sejumlah warga asing lain yang telah mendapat izin evakuasi dari Gaza, Farid keluar melewati pintu perbatasan Rafah, Mesir.

Farid merupakan satu dari tiga relawan MER-C yang sejak perang Israel-Hamas berkecamuk pada 7 Oktober, memutuskan untuk tetap tinggal di Gaza. Perang sempat berhenti selama beberapa hari setelah kedua pihak, yang dimediasi Amerika Serikat (AS) dan Qatar, sepakat melakukan gencatan senjata dan pembebasan sejumlah sandera. Lebih dari seratus tahanan Palestina juga dibebaskan dari berbagai penjara Israel. Selepas berakhirnya gencatan senjata, perang kembali berkobar dan semakin memperburuk situasi. Farid pun akhirnya meminta bantuan evakuasi.

Relawan Mer-C di Gaza: Farid (paling kiri), Fikri (paling kanan) dan Reza di sebelahnya (foto: dok. Farid).


Relawan Mer-C di Gaza: Farid (paling kiri), Fikri (paling kanan) dan Reza di sebelahnya (foto: dok. Farid).

Meskipun demikian dua relawan MER-C lainnya – Fikri Rafiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan – memutuskan tetap tinggal di Gaza untuk melanjutkan misi dan bantuan kemanusiaan sesuai amanah rakyat Indonesia saat menyumbang pembangunan RS Indonesia dulu. Sejak rumah sakit itu kewalahan dan akhirnya tidak lagi beroperasi, Farid bersama kedua temannya dievakuasi ke bagian selatan Gaza. Dan hari ini mahasiswa di Universitas Islam Gaza yang sudah bertugas di RS Indonesia sejak Februari 2019 itu memutuskan untuk kembali ke Tanah Air.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan proses evakuasi Farid memerlukan waktu yang panjang dan proses yang sangat kompleks, terutama upaya untuk memasukan namanya dalam daftar yang diperkenankan untuk melintas.

“Sebagaimana diketahui selama berlangsungnya jeda kemanusiaan perbatasan Rafah juga tidak selalu terbuka untuk arus keluar karena prioritas diberikan bagi arus masuk bantuan kemanusiaan,” ujarnya.

Farid telah berada dengan selamat di perbatasan Rafah, di wilayah Mesir bersama tim evakuasi KBRI Kairo dan segera akan dipulangkan ke Tanah Air.

Lebih jauh Retno mengatakan masih ada dua WNI yang menjadi relawan MER-C dan memilih untuk tetap tinggal di Gaza. Keduanya berada dalam keadan sehat, selamat dan tinggal di sebuah sekolah dekat rumah sakit Eropa. Indonesia, tambah Retno, akan terus menjalin komunikasi dan memantau keadaan mereka.

Fikri Tetap Ingin Kembali ke Gaza

Fikri Rofiul Haq, salah satu relawan MER-C yang memutuskan tetap tinggal di Gaza mengatakan meski sempat “ketakutan” dengan kondisi yang terjadi, tetapi tetap ada keinginan kuat di dalam hatinya untuk tetap dapat membantu masyarakat Gaza. Hal tersebut lah yang akhirnya membuat dia tetap kuat dan bertahan.

“Memotivasi diri sendiri, melihat keadaan anak-anak, kita obrol dengan anak-anak jadi ga tega ngeliatnya. Obrol sama orang (warga), karena orang-orang di sini ketika dikiranya kita dievakuasi semua. Kalau kamu pulang siapa yang mau kasih makan, kan nggak ada NGO-NGO lain, mereka bilang gitu,” ungkap Fikri kepada VOA.

Mahasiswa Indonesia relawan MER-C di Jalur Gaza menyiapkan 1000 paket Iftar dan 1000 Sembako untuk disumbangkan kepada warga Gaza.(dok MER-C)


Mahasiswa Indonesia relawan MER-C di Jalur Gaza menyiapkan 1000 paket Iftar dan 1000 Sembako untuk disumbangkan kepada warga Gaza.(dok MER-C)

Dia menceritakan sejak ia dan dua rekannya dievakuasi dari RS Indonesia di Gaza Utara ke Khan Younis, Gaza Selatan, pada tanggal 22 November 2023, mereka sempat “musyawarah” terkait evakuasi ke Indonesia. Akhirnya hanya Farid yang memutuskan untuk dievakuasi.

“Tanggal 23 November, kita langsung sampaikan, kita kan koordinasi dengan KBRI Kairo, Kemenlu dan MER-C pusat juga, kita sampaikan bahwa dua orang akan tetap dan satu orang meminta bantuan untuk dievakuasi. Jadi tanggal 23 November 2023 sampai kemaren (9 Desember) namanya baru keluar jadi namanya nunggu nya lama banget pokoknya,”ungkap Fikri.

Kemkes Palestina: Korban Terus Bertambah

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikuasai kelompok militan Hamas, mengatakan hingga Minggu (10/12) sedikitnya 17.400 orang Palestina meninggal, dan 48.000 lainnya luka-luka. Sementara di pihak Israel, sedikitnya 1.200 orang tewas akibat serangan Hamas.

“Alhamdulillah kita bisa mengambil bahan-bahan makanan, saat break pertunjukan. Setiap hari kita juga punya staf lokal yang setiap hari walaupun dalam gempuran ini, beliau tetap ke pasar walaupun dengan apa adanya. Jadi kita intinya buat makan siang karena pagi mereka susah mencari makan jadi kita menyediakan makan siang untuk mereka,” ungkapnya.

Sebelum Fikri, Kementerian Luar Negeri juga telah berhasil mengevakusi dua keluarga warga negara Indonesia yaitu keluarga Abdillah Onim dan Muhammad Husein. Evakuasi mereka juga sempat mengalami kesulitan.

Veto AS di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa memastikan perang di Gaza berlanjut. [fw/em]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours