PM Modi: India Akan Pelajari Info Soal Rencana Bunuh Separatis Sikh di AS

2 min read

India akan menyelidiki informasi apa pun yang diterimanya mengenai dugaan terkait dengan rencana pembunuhan yang gagal terhadap seorang separatis Sikh di AS. Hal itu dikemukakan PM India Narendra Modi kepada harian The Financial Times dalam wawancara yang diterbitkan hari Rabu.

Isu ini muncul pada saat yang sulit bagi India maupun pemerintahan Presiden AS Joe Biden ketika mereka berupaya membangun hubungan lebih erat dalam menghadapi kekhawatiran bersama mengenai semakin besarnya pengaruh China.

“Jika ada yang memberi kami informasi apa pun, kami pasti akan menyelidikinya,” kata Modi kepada surat kabar itu, sambil mengesampingkan dampaknya terhadap hubungan diplomatik dengan Washington terkait masalah itu.

“Jika seorang warga negara kami telah melakukan suatu hal yang baik atau buruk, kami siap untuk menyelidikinya. Komitmen kami adalah pada penegakan hukum,” imbuhnya.

Bulan lalu, Departemen Kehakiman AS mengatakan seorang pejabat India telah mengarahkan rencana itu, dan mengungkapkan dakwaan terhadap seorang lelaki yang dituduh mengatur percobaan pembunuhan itu.

India menyatakan prihatin atas keterkaitan tersebut dan memisahkan diri dari rencana itu, dengan mengatakan pemerintah akan resmi menyelidiki keprihatinan AS, dan mengambil “langkah-langkah lanjutan yang perlu” terkait temuan sebuah panel yang dibentuk pada 18 November lalu.

Pemimpin separatis Sikh Gurpatwant Singh Pannun di kantornya, di New York, Rabu, 29 November 2023. (AP/Ted Shaffrey)


Pemimpin separatis Sikh Gurpatwant Singh Pannun di kantornya, di New York, Rabu, 29 November 2023. (AP/Ted Shaffrey)

Para pejabat AS telah menyebut target percobaan pembunuhan itu sebagai Gurpatwant Singh Pannun, separatis Sikh yang memiliki kewarganegaraan ganda, AS dan Kanada.

Pannun adalah penasihat umum Sikhs for Justice, sebuah kelompok yang oleh India dicap sebagai “perkumpulan tidak sah” pada tahun 2019, seraya menyebut keterlibatannya dalam berbagai kegiatan ekstremis. Kemudian pada tahun 2020, India memasukkan Pannun ke daftar “teroris individu.”

Kabar mengenai rencana pembunuhan di AS itu muncul dua bulan setelah Kanada mengatakan sedang menyelidiki tuduhan yang kredibel, yang mengaitkan agen-agen India dengan pembunuhan Hardeep Singh Nijjar, seorang separatis Sikh lainnya, di kota Vancouver pada Juni lalu.

India dengan keras menolak tuduhan Ottawa. Modi mengatakan India dan Washington memiliki “kemitraan yang matang dan stabil.” “Kerja sama keamanan dan kontraterorisme telah menjadi komponen penting kemitraan kami,” ujarnya. “Saya pikir tidak pantas mengaitkan beberapa insiden dengan hubungan diplomatik antara kedua negara.” [uh/ab]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours