Lonjakan Drastis Migrasi Warga China di Perbatasan AS-Meksiko

2 min read

Selagi AS memperingati 80 tahun pencabutan Undang-Undang Pengecualian Tionghoa (Chinese Exclusion Act), ribuan imigran China melintasi perbatasan AS-Meksiko, sebagian besar karena alasan yang sama seperti yang dilakukan oleh warga negara mereka lebih dari satu abad yang lalu.

Undang-undang Pengecualian Tionghoa, yang disahkan pada tahun 1882, adalah satu-satunya undang-undang dalam sejarah AS yang membedakan kelompok etnis tertentu. Presiden Franklin D. Roosevelt secara resmi mencabut undang-undang tersebut pada 17 Desember 1943, dan memberikan hak kewarganegaraan yang sama kepada orang Amerika keturunan Tionghoa untuk pertama kalinya.

Zhongwei Wang melakukan perjalanan itu pada musim semi lalu melalui Amerika Tengah bersama keluarganya.

“Ketika saya tahu ada cara untuk meninggalkan China, saya merasa sangat gembira, sangat gembira,” katanya.

Menurut Patroli Perbatasan AS, dari bulan Januari hingga September, lebih dari 24.000 migran China melintasi perbatasan tanpa izin, sekitar 13 kali lipat jumlah yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu.

“Mereka melihat kurangnya peluang. Mereka melihat perekonomian China yang mengalami stagnasi. Banyak juga yang rasa frustrasi dengan begitu ketatnya kontrol pemerintah China, banyaknya pembatasan yang diterapkan pada kehidupan mereka, dan orang-orang telah mencari cara untuk sampai ke Amerika Serikat,” kata Madeline Y. Hsu, seorang profesor sejarah di Universitas Maryland.

Hsu berbicara di CRCEA80, pertemuan pada tanggal 5 Desember yang dihadiri oleh hampir 400 perwakilan dari 121 organisasi Tionghoa-Amerika yang berkumpul untuk memperingati 80 tahun pencabutan Undang-Undang Pengecualian Tionghoa, satu-satunya undang-undang AS yang melarang imigrasi hanya berdasarkan ras.

Perjalanan Wang

Wang tiba bersama orang tuanya, istrinya, dan kedua anak mereka pada bulan Mei. Mereka meninggalkan provinsi Anhui di China, katanya kepada VOA, karena kebijakan lockdown COVID-19 yang agresif dan masalah pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah China.

Keluarga tersebut terbang dari Hong Kong ke Turki, dan kemudian ke Quito, Ekuador, yang menawarkan pembebasan visa 90 hari untuk paspor China.

Dari sana, mereka berjalan kaki melalui Celah Darien, jalur berbahaya di hutan pegunungan antara Kolombia dan Panama yang digunakan oleh puluhan ribu migran pada tahun 2022 dalam perjalanan mereka ke AS.

“Kami harus mendaki empat bukit pada hari pertama,” ujarnya.

Istrinya menggendong putranya yang berusia 14 bulan di punggungnya. Ibunya, yang kondisi kesehatannya buruk, tidak dapat berjalan setelah mendaki bukit pertama, namun seorang rekan migran membantu sepanjang perjalanan.

Mereka yang tidak mempunyai sarana untuk mendapatkan visa terkadang memilih rute berbahaya ini. Wang mengatakan awalnya dia berencana mengajukan visa turis untuk datang ke Amerika Serikat, namun saat itu daftar tunggu wawancara visa turis ke Amerika lebih dari enam bulan. [lt/ns]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours