Israel: Yahudi-Iran ‘Tak Punya Pilihan’ Saat Lancarkan Protes Anti-Israel Bulan Lalu

4 min read

Israel mengeluarkan pernyataan terbuka pertamanya mengenai pemaksaan, yang tampaknya dilakukan Iran terhadap warga minoritas Yahudi di negara itu, untuk melancarkan protes anti-Israel sebulan silam, dan memberitahu VOA bahwa Israel percaya warga Yahudi-Iran yang berpartisipasi dalam unjuk rasa itu “tidak punya pilihan.”

“Kami sangat memahami keadaan [mereka],” kata Wakil Dirjen Diplomasi Publik di Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon dalam wawancara dengan VOA pada 14 November lalu di Yerusalem.

“Kami memahami bahwa ketika Anda hidup di bawah kediktatoran, kadang-kadang Anda tidak punya pilihan. Ini adalah bagian dari apa yang mereka (Yahudi di Iran) alami sejak 1979. Jadi kami memahami kesulitan yang mereka hadapi,” kata Nahshon.

Para ulama radikal Syiah yang menentang eksistensi Israel telah berkuasa di Iran sejak merebut kekuasaan dalam Revolusi Islam tahun 1979.

Siswi sekolah Iran mengibarkan bendera Iran dan Palestina saat unjuk rasa di depan bekas Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran, memperingati 44 tahun penyitaan kedutaan oleh mahasiswa militan Iran, Sabtu, 4 November 2023. (AP Photo/Vahid Salemi)


Siswi sekolah Iran mengibarkan bendera Iran dan Palestina saat unjuk rasa di depan bekas Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran, memperingati 44 tahun penyitaan kedutaan oleh mahasiswa militan Iran, Sabtu, 4 November 2023. (AP Photo/Vahid Salemi)

Warga Yahudi Iran mengadakan unjuk rasa di lima kota pada 30 Oktober lalu untuk mengecam Israel karena melancarkan perang terhadap Hamas, yang memicu konflik kali ini dengan serangannya pada 7 Oktober lalu terhadap Israel.

Ratusan orang Yahudi turut serta dalam berbagai protes di ibu kota, Teheran, dan di kota-kota Shiraz, Isfahan, Yazd dan Kermanshah, menurut berbagai video dan foto yang diterbitkan lima kantor berita pemerintah Iran dan ditinjau VOA. Itu adalah protes Yahudi anti-Israel terbesar yang terjadi di Iran sejak 1979.

Nahshon mengatakan Israel tidak merasa sakit hati terhadap para Yahudi Iran. “Mereka adalah saudara dan saudari kami, dan kami sangat mencintai mereka,” ujarnya.

Kutipan wawancara berbahasa Inggris dengan Nahshon, yang kemudian disulihsuarakan dalam bahasa Persia, diterbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris di podcast Flashpoint Iran VOA edisi pekan ini.

Dalam pernyataan 3 November yang dikirim dan pertama kali dilaporkan oleh VOA, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan pemerintahan presiden Joe Biden mengetahui laporan bahwa pihak berwenang Iran “memaksa para pemimpin Yahudi Iran dan komunitas mereka” untuk terlibat dalam protes tersebut.

“Sangat disayangkan karena rezim Iran terus menekan kelompok-kelompok agama untuk memajukan propaganda mereka,” kata juru bicara itu. Mengacu pada perang Israel-Hamas, juru bicara itu menambahkan, “Eksploitasi Iran terhadap konflik ini untuk memajukan penindasan dan propagandanya terhadap komunitas Yahudi menjijikkan.”

Misi Iran di PBB di New York menanggapi kritik AS dengan mengirimi VOA sebuah pernyataan yang menyebutkan protes anti-Israel pada 18 Oktober lalu dilakukan oleh orang-orang Yahudi sayap kiri di Washington DC dan menanyakan apakah mereka juga menjadi “sasaran tekanan” untuk mengecam Israel.

Pernyataan Iran itu juga menyebutkan, “Orang-orang Yahudi Iran, seperti orang-orang Yahudi lainnya di seluruh dunia … benar-benar muak dengan kejahatan mengerikan yang dilakukan rezim pendudukan [Israel] terhadap perempuan dan anak-anak Palestina yang tak bersalah.”

Para demonstran Iran di Teheran, Iran, membakar bendera AS dan Israel pada 4 Januari 2020, sebagai ilustrasi. (Foto: via Reuters)


Para demonstran Iran di Teheran, Iran, membakar bendera AS dan Israel pada 4 Januari 2020, sebagai ilustrasi. (Foto: via Reuters)

The Simon Wiesenthal Center, organisasi hak asasi Yahudi global, mengatakan orang-orang Yahudi di seluruh dunia, bukannya menyatakan kemarahan terhadap Israel, malah menghadapi “peningkatan antisemitisme yang belum pernah terjadi sebelumnya” terkait perang Israel-Hamas.

Rabi Amerika Abharam Cooper, Ketua Komisi Kebebasan Beragama Internasional AS yang bipartisan, memberikan reaksi terbuka pertamanya terhadap pernyataan Iran mengenai minoritas Yahudi di negara itu dalam wawancara telepon pada Kamis (30/11) dengan VOA. Cooper juga menjabat sebagai direktur aksi sosial global di Wiesenthal Center.

“Orang Yahudi Iran, seperti minoritas lainnya, pada dasarnya adalah sandera rezim yang dapat berdoa selama mereka mengucapkan kata-kata yang benar dan mengikuti peraturan rezim,” kata Cooper, “Para anggota komunitas Yahudi tahu bahwa jika rezim memberitahu mereka apa yang harus dilakukan, jangan main-main dengan itu. Itu bukanlah kebebasan beragama.”

Laporan tahunan terbaru Departemen Luar Negeri AS mengenai kebebasan beragama internasional, yang diterbitkan Mei lalu, mengutip Komisi Yahudi Teheran, yang mengatakan Iran dihuni oleh sekitar 9.000 orang Yahudi. Laporan itu juga mengutip seorang anggota komunitas tersebut yang tidak disebutkan namanya dan dalam kunjungan ke AS pada tahun 2021 memberikan perkiraan populasi yang lebih tinggi, yaitu 20 ribu jiwa. [uh/em]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours