Filipina Identifikasi Tersangka Pelaku Pengeboman pada Misa Minggu

3 min read

Polisi Filipina telah mengidentifikasi sedikitnya dua tersangka dalam pengeboman pada kegiatan misa yang menewaskan empat orang, kata seorang kepala polisi daerah pada Senin (4/12). Ia juga bertekad akan memburu mereka yang berada di balik ledakan tersebut, yang diklaim dilakukan oleh militan ISIS.

Bom itu meledak pada Minggu saat misa di sebuah gymnasium universitas di Marawi. Kota itu hancur akibat aksi militer selama lima bulan pada tahun 2017 untuk mengakhiri pendudukan berdarah oleh pendukung setia ISIS yang memicu kekhawatiran di berbagai penjuru Asia.

“Kami telah mendapatkan orang-orang yang diduga terlibat, tetapi investigasi masih berjalan. Agar tidak mendahului investigasi, kami tidak akan membocorkan nama-nama mereka,” kata kepala polisi daerah Allan Nobleza kepada GMA News. Ia menambahkan bahwa salah seorang tersangka terkait dengan kelompok militan lokal.

AS mengecam apa yang disebutnya “serangan teroris yang mengerikan” dan mengatakan mendukung rakyat Filipina dalam menolak kekerasan, bergabung dengan dukungan dari negara-negara lain yang mencakup Jepang, Australia, Inggris, China dan Kanada.

Aktivis menyalakan lilin saat mereka berdoa pada Senin, 1 April 2019, di Manila, Filipina, untuk memprotes pembunuhan di Filipina tengah sebagai ilustrasi. (Foto: AP)


Aktivis menyalakan lilin saat mereka berdoa pada Senin, 1 April 2019, di Manila, Filipina, untuk memprotes pembunuhan di Filipina tengah sebagai ilustrasi. (Foto: AP)

“Kami berkabung atas mereka yang tewas dalam serangan, dan duka kami tertuju pada mereka yang cedera,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller dalam sebuah pernyataan.

Militan ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom pada Minggu di Mindanao State University, tidak lama setelah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengatakan “teroris asing” bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Marawi adalah daerah yang dikenal juga sebagai Bangsamoro, daerah terbelakang berpenduduk Muslim di Filipina yang mayoritas warganya penganut Katolik. Selama puluhan tahun daerah ini berjuang melawan berbagai pelanggaran hukum, kekerasan oleh separatis dan konflik antarsuku, sehingga memicu kekhawatiran tempat ini akan menjadi lahan yang subur bagi ekstremisme.

Panglima militer Romeo Brawner pada Minggu mengatakan ia menduga pengeboman itu mungkin merupakan serangan balasan karena serangan tersebut terjadi setelah aksi militer terhadap kelompok-kelompok ekstremis lokal di bagian selatan Mindanao.

Militer baru-baru ini mengatakan telah menewaskan seorang anggota senior Abu Sayyaf, kelompok yang terkenal sering melakukan penculikan dan perompakan serta mengaku bersekutu dengan ISIS.

Mendiang pemimpin Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon, adalah ‘emir’ ISIS di Asia Tenggara dan dalang pendudukan Marawi 2017, yang menyebabkan kematian lebih dari 1.000 orang selama perang lima bulan, termasuk di antaranya adalah militan dari beberapa negara. Hapilon dibunuh oleh seorang penembak jitu.

Militer mengatakan pihaknya juga telah melancarkan dua operasi di Mindanao pada Jumat dan Minggu terhadap Dawlah Islamiya-Maute, kelompok yang bergabung dengan Hapilon dalam merebut Marawi pada tahun 2017 dan berusaha mengubahnya menjadi ‘wilayat’ – atau kegubernuran – ISIS di Asia Tenggara

Xerxes Trinidad, juru bicara militer, mengatakan tahu mengenai klaim tanggung jawab ISIS dan sedang berupaya memvalidasinya. [uh/ab]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours