Dengan Bankrutnya ‘WeWork’, Apakah ‘Co-Working Space’ Masih Relevan?

4 min read

Di ruang kerja bersama, yang kerap disebut sebagai kantor fleksibel atau co-working space, berbagai perusahaan beraktivitas di satu area yang sama. Beberapa di antaranya wirausahawan. Mereka membayar uang sewa setiap bulan atau setiap jam untuk meja yang mereka gunakan, soket listrik untuk mengisi daya baterai laptop, serta sambungan Wi-Fi. Mereka juga bisa menggunakan bilik pribadi, ruang rapat, serta kamar mandi dan dapur bersama.

WeWork, yang pernah bernilai hampir $50 miliar (sekitar Rp771 triliun), mengajukan perlindungan kebankrutan di AS pada 7 November lalu. Perkembangan itu menjadi kejatuhan yang mengejutkan bagi perusahaan yang pernah berjanji akan mengubah cara orang bekerja di seluruh dunia itu.

Masalah utama yang menyebabkan WeWork bankrut adalah perluasan bisnis secara besar-besaran yang dilakukan perusahaan itu di masa-masa awal beroperasi.

Mantan bos eksekutif alias CEO perusahaan itu sendiri dipecat karena perilakunya yang tidak menentu, pengeluaran yang terlalu tinggi dan gagal membuat perusahaannya go public, alias melantai di bursa efek.

WeWork lantas terseok-seok di pasar real estat komersial yang terguncang oleh meningkatnya biaya pinjaman, serta perubahan dinamika jutaan tenaga kerja kantoran yang sejak pandemi mulai bekerja secara jarak jauh.

Lantas, apakah masa depan pasar co-working space masih ada?

Pesaing WeWork yang berbasis di London, Work.Life, mengatakan bahwa mereka masih bertahan.

David Kosky, salah satu pendiri Work.Life, mengatakan, “Pelajaran utama yang kami dapat dari WeWork dan mereka telah banyak berkontribusi untuk pasar, adalah bahwa bisnis ini mengutamakan kualitas, bukan kuantitas. Maka, bagi kami, seiring rencana kami untuk melakukan ekspansi, yang utama adalah melakukannya dengan membuat kesepakatan yang tepat, dengan tuan rumah yang tepat, di lokasi yang tepat. Dan saya rasa, lihat saja bisnis perhotelan, butuh waktu puluhan tahun untuk membangunnya, dan saya rasa ini seperti lari maraton, bukan perlombaan. Menurut kami pasar ini akan bertahan.”

Work.Life saat ini mengoperasikan 15 lokasi kantor bersama di Inggris, sebagian besarnya di London, dan bermaksud membuka tiga lokasi baru hingga akhir tahun ini.

Work.Life's, Soho, London. (Facebook/@workdotlife)


Work.Life’s, Soho, London. (Facebook/@workdotlife)

Dalam pernyataan tertanggal 6 November, WeWork mengatakan bahwa lokasi-lokasinya di luar AS dan Kanada “tidak termasuk” yang bankrut. Mordor Intelligence menyebut London sebagai “ibu kota kantor fleksibel di dunia,” dengan lebih dari 1,6 juta meter persegi co-working space tersedia pada awal 2020.

Menurut perusahaan informasi real estat komersial CoStar, WeWork adalah penyewa ruang kantor terbesar London, dengan menyewa 0,8 persen stok ruang perkantoran yang ada, seluas 300.000 meter persegi. Seluruh co-working space di London sendiri mengisi sembilan persen perkantoran London, menurut bankir investasi Jefferies.

Peter Murray, salah satu pendiri lembaga think tank yang fokus pada lingkungan terbaru di London, New London Architecture (NLA), mengatakan, “Saya rasa selalu ada kecurigaan bahwa kecepatan perluasan WeWork membuat kita bisa dengan mudah memahami bagaimana perusahaan itu jatuh ketika kita memasuki situasi di mana perekonomian di seluruh dunia sedikit lebih sulit dari kondisi sebelumnya. Dan menurut saya salah satu masalah yang dihadapi ruang kantor fleksibel adalah masa sewa yang sangat singkat. Maka ketika pasar anjlok, banyak orang akan langsung mengakhiri sewa hampir tanpa peringatan.”

Semakin banyak perusahaan besar dan lebih bonafit yang mencoba untuk mengurangi operasi mereka. Juni lalu, kelompok perbankan HSBC mengumumkan bahwa mereka akan meninggalkan markas globalnya di sebuah gedung 45 lantai di Canary Wharf, London. Sebagai gantinya, mereka akan menyewa sebuah gedung berukuran separuhnya di Kota London.

Meskipun co-working space tidak dapat mengakomodiasi organisasi seukuran HSBC, Kosky mengatakan semakin banyak perusahaan berukuran kecil dan menengah yang lebih memilih kantor fleksibel seperti Work.Life.

“Kami melihatnya terjadi pada bank-bank besar yang pindah dari gedung seluas jutaan kaki persegi ke yang seluas 150.000 kaki persegi. Kami juga melihatnya terjadi pada perusahaan berpegawai 50 sampai 100 orang yang sebelumnya menyediakan meja untuk setiap pegawai, kini itu dikurangi. Dan perusahaan seperti kami dapat memberikan solusi yang sangat baik bagi mereka, yang jauh lebih efisien secara biaya dan memberikan fleksibilitas yang lebih baik juga,” jelasnya.

Work.Life's meeting room at Central London. (Facebook/@workdotlife)


Work.Life’s meeting room at Central London. (Facebook/@workdotlife)

Co-working space utamanya melayani para pekerja individu atau tim kecil, karena menawarkan fleksibilitas untuk berlangganan tanpa komitmen.
Pendiri perusahaan rintisan Workshops by WOAW, Joe Binder, mengaku bekerja dari co-working space selama enam tahun terakhir.

“Yang semakin istimewa, ketika kami menjadi sebuah tim penuh beranggotakan enam orang, saya bisa memindahkan (kami) dari area kerja bersama ke area ruang kantor privat,” jelasnya.

Bankir investasi Jefferies memperkirakan ketidakterisian ruang kantor berada pada tingkat paling “tinggi dalam 30 tahun terakhir,” yaitu mencapai 10 persen di pusat kota dan lebih dari 20 persen di Canary Wharf, dua distrik bisnis paling terkemuka di London.

Meski demikian, Murray menilai, kejatuhan WeWork di AS tidak akan menular ke pasar ruang kerja bersama di London. “Sebenarnya, masa depan (ruang kerja bersama) cukup cerah, karena jika kita melihat ke belakang, umumnya orang harus menyewa kantor minimum 10 tahun atau 25 tahun, tapi dunia bisnis sudah tidak seperti itu. Mereka harus jauh lebih fleksibel.” [rd/jm]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours