COP28 Fokus pada Dampak Pemanasan Global terhadap Penularan Penyakit 

3 min read

Di tengah kabut tebal yang menyelimuti kota Dubai, UEA, KTT COP28 melewatkan dua hari terakhir dengan pembahasan dan seruan akan persatuan para pemimpin dunia untuk mengatasi masalah kesehatan seperti kematian sedikitnya tujuh juta orang di seluruh dunia di seluruh dunia akibat polusi udara. Pembicaraan juga menyangkut kekhawatiran tentang penyebaran penyakit seperti kolera dan malaria karena pemanasan global yang merusak sistem cuaca.

Yseult Gilbert adalah seorang dokter dari Kanada yang ikut berdemonstrasi di luar arena KTT itu.

“Tidak banyak orang yang tahu bahwa krisis iklim adalah krisis kesehatan. Krisis iklim berdampak pada polusi udara. Tentu saja, itulah yang mungkin ada di benak orang. Jadi, paru-paru kita memberikan tekanan pada sistem kardiovaskular, pembuluh kolesterol, dan jantung kita, tetapi krisis iklim juga berdampak pada meningkatnya penyakit menular, resistensi antimikroba yang lebih besar.”

Sementara itu, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kini adalah saat yang tepat bagi KTT PBB mengenai iklim untuk mengadakan hari kesehatan pertama dalam edisinya yang ke-28, dan mengatakan bahwa ancaman terhadap kesehatan akibat perubahan iklim “segera terjadi.”

“Meskipun krisis iklim adalah krisis kesehatan, sudah terlambat jika COP sebanyak 27 kali berakhir tanpa serangkaian diskusi mengenai kesehatan. Tidak diragukan lagi, kesehatan merupakan alasan paling kuat untuk mengambil tindakan terkait perubahan iklim,” kata Tedros.

Setelah dua hari penyampaian serangkaian pidato oleh puluhan presiden, perdana menteri, bangsawan, dan para pemimpin penting lainnya – baik di podium maupun di luar panggung – para peserta juga mengalihkan perhatian pada negosiasi yang sulit selama sembilan hari ke depan untuk mendorong lebih banyak kesepakatan mengenai berbagai cara untuk membatasi pemanasan global pada 1,5 derajat Celsius sejak masa pra-industri.

Hari Sabtu ditutup dengan kepemimpinan COP28 yang mengumumkan bahwa 50 perusahaan minyak dan gas telah sepakat untuk mencapai emisi metana mendekati nol dan menghentikan pembakaran rutin dalam operasi pengeboran minyak atau gas selambatnya pada tahun 2030.

Perusahaan-perusahaan itu juga berjanji untuk mencapai “nol emisi” pada operasinya pada tahun 2050.

Kenaikan suhu yang disebabkan oleh pembakaran minyak, gas, dan batu bara telah memperburuk bencana alam seperti banjir, gelombang panas, dan kekeringan, serta menyebabkan banyak orang bermigrasi ke daerah beriklim sedang – selain dampak negatifnya terhadap kesehatan manusia.

Deklarasi COP28 yang didukung oleh sekitar 120 negara menekankan hubungan antara kesehatan dan perubahan iklim.

WHO tidak menyebutkan secara bertahap penghapusan bahan bakar fosil yang dapat menyebabkan pemanasan global, namun berjanji untuk mendukung upaya mengurangi polusi pada sektor layanan kesehatan, yang menyumbang 5% dari emisi global, menurut kepala WHO.

Diarmid Campbell-Lendrum, kepala iklim dan kesehatan di WHO, mengatakan panas telah memberikan tekanan pada tubuh dan menyebabkan tingkat penyakit menular yang lebih tinggi.

“Kita kehilangan sekitar tujuh juta nyawa setiap tahun akibat polusi udara. Jadi, apa yang benar-benar ingin kami lakukan adalah masa depan energi yang bersih karena hal ini akan menyediakan energi yang dibutuhkan penduduk di seluruh dunia untuk banyak hal lainnya, termasuk menjaga kesehatan,” ujarnya.

Dubai, kota terbesar di Uni Emirat Arab yang kaya minyak, sering kali menghadapi tingkat polusi udara yang lebih tinggi dibandingkan tempat-tempat lain di dunia karena lokasinya – dan kabut asap merupakan hal biasa di kota itu.

Pemerintah Dubai, di situs webnya mengenai lingkungan hidup, mencantumkan sebagian besar tingkat Indeks Kualitas Udara (IQAir) di kota itu pada level “baik” pada hari Minggu.

IQAir yang berbasis di Swiss, sebuah perusahaan teknologi yang menjual produk pemantauan kualitas udara, memasukkan Dubai sebagai kota dengan kualitas udara terburuk ke-18 di dunia dengan tingkat kualitas udara “sedang” pada Minggu siang waktu setempat.

Laporan tersebut mengutip tingginya tingkat dua jenis materi partikel di udara, dan merekomendasikan penggunaan masker bagi “kelompok sensitif” dan pengurangan kegiatan olah raga di luar ruangan. [lt/jm]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours