Partai Oposisi Taiwan Bertikai terkait Rencana Pencalonan Presiden Bersama

3 min read

Upaya potensial dari dua partai oposisi utama di Taiwan untuk mencalonkan presiden bersama berantakan pada Sabtu (18/11) karena mereka berselisih tentang cara menyetujui siapa yang akan mencalonkan diri sebagai presiden. Padahal mereka hanya memiliki waktu yang sempit untuk membuat keputusan.

Masalah China, yang beranggapan Taiwan sebagai wilayahnya, membayangi pemilu parlemen dan presiden pada 13 Januari mendatang. China terus meningkatkan tekanan militer dan politik, termasuk latihan perang tingkat tinggi, untuk menekan pulau tersebut agar menerima klaim kedaulatannya. Namun Taiwan menolaknya.

Setelah berminggu-minggu melakukan pembicaraan sengit mengenai partisipasi dalam pemilihan presiden, Kuomintang (KMT) dan Partai Rakyat Taiwan (TPP) yang jauh lebih kecil pada Rabu sepakat untuk meninjau keseluruhan jajak pendapat. Peninjauan itu dilakukan untuk memutuskan kandidat dari partai mana yang akan mencalonkan diri sebagai presiden dan yang sebagai wakil presiden.

Namun, kedua partai gagal mencapai kesepakatan tentang cara menafsirkan hasil jajak pendapat. Oleh karenanya, mereka juga belum dapat menentukan siapa yang akan mencalonkan diri untuk posisi apa, dengan batas waktu yang semula dijadwalkan pada Sabtu. Kandidat harus mendaftar ke komisi pemilihan pada Jumat.

Pendukung Kuomintang (KMT) berkumpul di luar markas besar saat partai tersebut mengumumkan calon presiden di Taipei, Taiwan, 17 Mei 2023. (Foto: REUTERS/Ann Wang)


Pendukung Kuomintang (KMT) berkumpul di luar markas besar saat partai tersebut mengumumkan calon presiden di Taipei, Taiwan, 17 Mei 2023. (Foto: REUTERS/Ann Wang)

Kandidat Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa, Wakil Presiden Lai Ching-te, selama berbulan-bulan terus memimpin sebagian besar jajak pendapat untuk menjadi presiden Taiwan berikutnya, meninggalkan Hou Yu-ih dari KMT dan Ko Wen-je dari TPP untuk bertarung memperebutkan posisi kedua.

Beijing sangat tidak menyukai kandidat terdepan Lai, menganggapnya sebagai seorang separatis, dan telah berulang kali menolak seruan darinya untuk melakukan pembicaraan. Hou khususnya telah berjanji untuk memperbarui dialog dengan Beijing, dan mengatakan Lai adalah pendukung berbahaya kemerdekaan Taiwan.

Beberapa jajak pendapat menunjukkan bahwa jika Hou dan Ko bekerja sama, dalam kombinasi apa pun, mereka akan mengalahkan Lai dan pasangannya, Hsiao Bi-khim, utusan Taiwan untuk Amerika Serikat (AS).

Mantan wali kota Taipei Ko ketika ditanya oleh wartawan apakah perundingan kini gagal, mengatakan segala sesuatu mungkin terjadi sebelum Jumat. Namun ia tidak dapat diharapkan untuk “menyerah” kepada KMT tentang masalah jajak pendapat. Ko sendiri sebelumnya pernah mengatakan hal-hal yang paling ia benci adalah “nyamuk, kecoa, dan KMT.”

“Kami berharap bisa terus berkonsultasi dengan KMT,” ujarnya.

Kedua partai bersikeras bahwa pembacaan jajak pendapat mereka adalah yang benar. KMT menunjukkan bahwa jika Hou adalah calon presiden maka tim gabungan dengan Ko sebagai pasangannya akan mengalahkan Lai, dan hal ini tidak ditunjukkan oleh TPP.

Ketua KMT Eric Chu, berbicara pada konferensi pers terpisah, mengatakan kerja sama tetap menjadi tujuan. Namun ia tidak mengindikasikan bahwa ia akan mundur dalam masalah pemilu.

“Kami berharap bisa mencapai konsensus sesegera mungkin,” katanya.

Seorang perempuan berjalan melewati kantor pusat kampanye pemilihan presiden pendiri Foxconn, Terry Gou, di Taipei. (Foto: Reuters)


Seorang perempuan berjalan melewati kantor pusat kampanye pemilihan presiden pendiri Foxconn, Terry Gou, di Taipei. (Foto: Reuters)

DPP, yang pada Senin akan mengumumkan Hsiao sebagai pasangan Lai dan memperjuangkan identitas Taiwan yang terpisah dari China, mengatakan hanya China yang akan mendapatkan keuntungan dari kerja sama oposisi.

Berbicara pada acara kampanye Lai di kota selatan Chiayi pada Sabtu, Presiden Tsai Ing-wen mengatakan pihak oposisi hanya berusaha untuk membagi kekuasaan dan mereka bekerja sama menambah kekacauan.

“Jika kedua partai politik tidak memiliki kesamaan filosofi, maka jalannya pemerintahan akan mengalami gesekan internal dan tidak akan bisa mendapatkan kepercayaan internasional,” ujarnya. [ah/ft]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours