Orang Pertama yang Didakwa UU Campur Tangan Asing Australia Sangkal Bekerja untuk China

3 min read

Tim pengacara orang pertama yang didakwa berdasarkan Undang-Undang Campur Tangan Asing Australia bersikeras mengatakan di pengadilan pada Jumat (17/11) bahwa sumbangan ke rumah sakit yang diberikan melalui menteri pemerintah federal bukanlah upaya rahasia untuk menjilat atas nama Partai Komunis China.

Pengusaha Melbourne dan tokoh masyarakat setempat Di Sanh Duong (68), telah mengaku tidak bersalah di Pengadilan Negeri Victoria atas tuduhan mempersiapkan atau merencanakan tindakan campur tangan asing. Duong, kelahiran Vietnam, yang datang ke Australia pada tahun 1980 sebagai pengungsi, bisa dikenai hukuman penjara 10 tahun jika terbukti bersalah dalam kasus penting tersebut.

Ia adalah orang pertama yang didakwa berdasarkan undang-undang federal yang dibuat pada tahun 2018 yang melarang campur tangan asing secara terselubung dalam politik dalam negeri dan menjadikan spionase industri untuk kekuatan asing sebagai kejahatan. Undang-undang tersebut menyerang mitra dagang terpenting Australia, China, dan mendorong kemerosotan hubungan bilateral.

Tuduhan tersebut berpusat pada cek baru yang diserahkan Duong kepada seorang menteri kabinet saat itu, Alan Tudge, di sebuah acara media pada bulan Juni 2020 sebagai sumbangan respons pandemi untuk Rumah Sakit Royal Melbourne. Sumbangan sebesar 37.450 dolar Australia (saat itu setara dengan $25.800, sekarang $24.200) telah dikumpulkan melalui diaspora Tionghoa lokal di Melbourne.

Pengacara pembela Peter Chadwick mengatakan kepada juri bahwa Duong “dengan tegas membantah” tuduhan jaksa bahwa ia berusaha mempengaruhi Tudge dengan cek tersebut. Duong adalah presiden lokal dari kelompok komunitas Federasi Organisasi Tionghoa Oseania, sebuah kelompok global untuk orang-orang keturunan Tionghoa dari Vietnam, Kamboja, dan Laos.

Chadwick juga membantah Duong yang akrab disapa Sunny telah direkrut atau berkolaborasi dengan siapa pun yang terkait dengan Partai Komunis China. “Ketakutan terhadap COVID membayangi seperti awan gelap yang menyelimuti komunitas Tionghoa di Melbourne,” kata Chadwick di pengadilan. “Dengan latar belakang inilah Duong dan anggota komunitas etnis Tionghoa lainnya memutuskan bahwa mereka ingin melakukan sesuatu untuk mengubah persepsi tidak adil ini,” tambah Chadwick.

Jaksa menuduh Duong mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa ia memperkirakan Tudge akan menjadi perdana menteri Australia yang konservatif berikutnya. Namun Tudge keluar dari Parlemen tahun ini, beberapa bulan setelah Partai Buruh yang berhaluan kiri-tengah memenangkan pemilu.

Duong sempat mencalonkan diri sebagai kandidat Partai Liberal yang konservatif pada pemilu Victoria pada tahun 1996 dan tetap aktif dalam politik partai. Pejabat Partai Liberal Robert Clark bersaksi pada hari Jumat bahwa ia menolak beberapa saran kebijakan Duong yang “sangat dangkal dan naif”. Saran yang diajukan termasuk China membangun jalur kereta berkecepatan tinggi pertama di Australia antara Melbourne dan Brisbane.

Jaksa membuka kasusnya pada hari Kamis dengan tuduhan bahwa Duong memiliki hubungan rahasia dengan upaya global dalam memajukan kepentingan Partai Komunis China. “Sebelum Anda mulai memikirkan novel mata-mata dan film James Bond, ini sebenarnya bukan kasus spionase,” kata jaksa penuntut Patrick Doyle kepada juri. “Ini sebenarnya bukan kasus mata-mata. Ini adalah kasus bentuk campur tangan yang jauh lebih halus. Ini tentang pengaruh,” tambah Doyle.

Sidang akan berlanjut minggu depan. [ab/ka]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours