Krisis Kemanusiaan di Gaza dan Tepi Barat Memburuk

3 min read

Sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan krisis kemanusiaan di Gaza makin parah seiring dengan meningkatnya jumlah kematian, pembunuhan sejumlah pekerja-pekerja bantuan PBB yang menyentuh tingkat yang belum pernah terjadi.

Selain itu, seluruh lingkungan rata dengan tanah akibat pengeboman yang bertubi-tubi, dan jutaan orang tidak bisa menerima makanan, air, obat-obatan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

“Jika ada neraka di Bumi saat ini, itu namanya Gaza bagian utara. Bagi orang-orang yang masih bertahan di sana, ujung keberadaan mereka adalah kematian, kekurangan, keputusasaan, pengungsian, dan kegelapan dalam arti sesungguhnya,” kata Jens Laerke, juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/UN OCHA]

“Seluruh Jalur Gaza sudah dalam kegelapan sejak 11 Oktober ketika jaringan listrik dimatikan dan bahan bakar minyak (BBM) sudah tidak datang lagi,” kata Laerke.

Pasukan Israel memblokir total Gaza setelah para kombatan Hamas yang berbasis di wilayah itu melancarkan serangan besar-besaran di selatan Israel pada 7 Oktober. Serangan itu menewaskan setidaknya 1.400 orang.

Hamas juga menahan 240 sandera saat penyerangan dan terus menembakkan roket-roket ke wilayah Israel.

Meski Israel melonggarkan sebagian kepungan terhadap Gaza pada 21 Oktober, negara itu masih menolak mengizinkan pasokan BBM untuk masuk ke wilayah itu. Israel beralasan Hamas akan menyelewengkan pasokan BBM itu untuk tujuan militernya.

Amerika Serikat (AS) melaporkan bahwa Israel sudah setuju untuk menerapkan jeda kemanusiaan selama empat jam setiap harinya agar warga sipil bisa mengungsi dari Gaza utara ke tempat yang lebih aman di Selatan dan truk-truk berisi bantuan yang sangat dibutuhkan untuk memasuki kantong permukiman itu.

Laerke mengatakan jeda empat jam tidak memungkinkan untuk membawa bantuan yang cukup ke Gaza melalui penyeberangan Rafah. Dia mengatakan Rafah “didesain dan dibangun untuk penyeberangan pejalan kaki. Jalan itu tidak dibangun untuk dilewati truk-truk.”

Para pekerja membagikan bantuan kepada orang-orang Palestina yang mengungsi dari utara Gaza ke arah selatan seiring dengan merangseknya tank-tank Israel ke dalam permukiman di tengah konflik Israel dan hamas di Jalur Gaza, 10 November 2023. (Foto: Ibraheem Abu Mustafa/Reuters)


Para pekerja membagikan bantuan kepada orang-orang Palestina yang mengungsi dari utara Gaza ke arah selatan seiring dengan merangseknya tank-tank Israel ke dalam permukiman di tengah konflik Israel dan hamas di Jalur Gaza, 10 November 2023. (Foto: Ibraheem Abu Mustafa/Reuters)

“Penyeberangan itu digunakan dan dibangun untuk dilewati truk-truk ada penyeberangan Kerem Shalom…oleh karena itu kami mengadvokasi dengan pihak berwenang Israel untuk membuka kembali dan menggunakan penyeberangan itu,” katanya.

Menurutnya, sebanyak 65 truk yang membawa makanan, obat-obatan dan serta bantuan lainnya menyeberang melalui Mesir ke Gaza melalui penyeberangan Rafah. Dengan demikian, sebanyak jumlah total truk yang sudah memasuki Gaza sejak 21 Oktober mencapai 821 truk.

Sebelum konflik saat ini, kata Laerske, sekitar 500 truk bantuan memasuki Gaza setiap hari kerja.

“Sekarang sulit sekali bagi pekerja bantuan, bagi kami untuk masuk, untuk truk-truk masuk. Dan kedua, bagian selatan Gaza tidak aman. Tidak aman,” katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) juga sependapat. Badan itu melaporkan bahwa 20 dari 36 rumah sakit di Gaza sudah tidak berfungsi. Sisa 16 rumah sakit yang masih beroperasi hanya menyediakan layanan paling dasar.

Orang-orang Palestina yang mengungsi dari utara Gaza ke selatan di tengah konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, 10 November 2023. (Foto: Ibraheem Abu Mustafa/Reuters)


Orang-orang Palestina yang mengungsi dari utara Gaza ke selatan di tengah konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, 10 November 2023. (Foto: Ibraheem Abu Mustafa/Reuters)

“Mereka tidak punya pasokan yang cukup. Mereka tidak punya obat bius. Mereka tidak punya disinfektan, dan mereka sangat, sangat padat,” kata juru bicara WHO, Margaret Harris.

“Kami siap mengirimkan tim medis gawat darurat ke Gaza untuk mendukung sistem kesehatan, tetapi tidak ada akses aman. Tidak ada tempat yang aman,” katanya.

“Lihat jumlah rekan-rekan UNRWA (UN Relief and Works Agency for Palestine Refugees) yang sudah terbunuh.”

Badan PBB yang mengurusi pengungsi Palestina itu mengatakan sekitar 100 anggota stafnya sudah terbunuh.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Jumlah anggota staf yang terbunuh dalam jangka waktu yang singkat belum pernah terjadi dalam sejarah PBB,” kata Rolando Gomez, kepala pers dan hubungan eksternal di Jenewa. [ft/ah]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours