Greenpeace Indonesia: Tiga Fokus Isu Perubahan Iklim Jokowi Baik, Tapi Kontraproduktif 

2 min read

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Asia Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC) di Kota San Fransisco, Amerika Serikat (AS), baru saja berakhir pekan lalu. Beragam isu dibahas, termasuk upaya menyelamatkan lingkungan hidup dan menghadapi perubahan iklim yang makin ekstrem. Melanjutkan komitmen para pemimpin APEC dalam “Visi APEC Putrajaya 2040,” para pemimpin di KTT APEC kali ini sepakat mengembangkan Inisiatif Transisi Energi yang Adil (Just Energy Transition Initiative/ JETI) melalui kelompok-kelompok kerja energi. JETI diproyeksikan akan mengikutsertakan tenaga kerja, perusahaan dan investor swasta, serta masyarakat untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi yang adil dan inklusif. Di atas kertas, JETI didorong untuk melibatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), perempuan dan pihak lain yang selama ini belum diikutsertakan yaitu masyarakat adat.

Presiden Joko Widodo menghadiri sesi di KTT APEC di San Francisco, 16 November 2023. (Foto: Biro Setpres)


Presiden Joko Widodo menghadiri sesi di KTT APEC di San Francisco, 16 November 2023. (Foto: Biro Setpres)

Dalam forum itu, Presiden Indonesia Joko Widodo menyampaikan tiga fokus utama yaitu mewujudkan transisi energi yang berkeadilan, kolaborasi yang setara, saling menguntungkan dan sejalan dengan Dokumen Bangkok tentang Economy and Prinsip Transaksi Energi yang adil. Fokus kedua adalah memastikan agar setiap ekonomi memiliki akses pada teknologi hijau yang terjangkau, berkelanjutan, dan modern; yang memerlukan transfer teknologi, pengembangan kapasitas, dan akses terhadap mineral kritis. Dan fokus ketiga adalah, mendorong mekanisme pembiayaan yang inovatif.

“Indonesia ingin jalin kerja sama investasi pengelolaan cadangan nikel untuk ekosistem baterai EV guna memastikan energi bersih tersedia bagi semua, sesuai prinsip no one left behind,” kata Jokowi.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours