Aksi Demo Muslim Konservatif, Tolak Konser Coldplay di Jakarta

2 min read

Puluhan Muslim konservatif, Jumat (10/11), berunjuk rasa di Jakarta. Mereka menuntut dibatalkannya konser Coldplay bulan ini, dengan alasan dukungan band asal Inggris itu terhadap lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ) akan merusak generasi muda.

Coldplay akan menggelar konser perdananya, bertajuk “Music Of The Spheres World Tour” pada 15 November di Stadion Gelora Bung Karno. Sudah lebih dari 70.000 tiket terjual dalam waktu kurang dari dua jam dalam dua periode penjualan berbeda pada Mei lalu.

Kelompok garis keras sejak itu mengkritik Coldplay dengan tegas. Menurut mereka, sifat sugestif acara itu mengancam akan melemahkan moral negara, meskipun Indonesia juga merupakan rumah bagi salah satu basis penggemar terbesar Coldplay dengan 1,6 juta penggemar di Jakarta, menjadikan kota ini salah satu basis penggemar Coldplay dan paling banyak menyimak lagu-lagu grup tersebut.

Sambil memegang spanduk dan plakat yang mengecam dukungan band tersebut terhadap LGBTQ, hampir 100 demonstran memenuhi jalan-jalan raya utama di Jakarta setelah salat Jumat. Mereka diorganisir kelompok Islam Alumni Persaudaraan 212, yang dikenal sebagai PA 212, organisasi yang berafiliasi erat dengan Front Pembela Islam atau FPI yang sudah dibubarkan pemerintah.

Aksi massa dari Geranati-LGBT mendatangi Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pada Jumat (10/11), menolak konser musik band Coldplay yang akan berlangsung pada Rabu (15/11) mendatang di Jakarta. (VOA/Indra Yoga)


Aksi massa dari Geranati-LGBT mendatangi Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pada Jumat (10/11), menolak konser musik band Coldplay yang akan berlangsung pada Rabu (15/11) mendatang di Jakarta. (VOA/Indra Yoga)

Meneriakkan “Allahu Akbar” dan “Kami menolak Coldplay,” mereka berbaris menuju gedung kedutaan Inggris yang dijaga ketat. Mereka menuntut pemerintah Indonesia dan Inggris bertindak untuk membatalkan konser Coldplay di negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia.

Coldplay dikenal sebagai pendukung nilai-nilai progresif, termasuk hak-hak LGBTQIA+. Pentolan grup itu, Chris Martin, mengaku telah menjauhi agama, dan menyebut diri sebagai orang yang “all-theist” karena ia percaya pada segala hal.

Keberatan kelompok itu mendorong Majelis Ulama Indonesia (MUI), lembaga Islam paling berpengaruh di Indonesia, untuk meminta promotor memastikan tindakan atau pesan bertema LGBTQ tidak disertakan dalam konser pada 15 November.[ka/ab]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours