10 Tentara Taiwan Didakwa Jadi Mata-mata China

2 min read

Sepuluh perwira dan mantan perwira militer Taiwan pada Senin (27/11) didakwa menjadi mata-mata untuk China, termasuk dua orang yang membuat video yang isinya janji untuk “menyerah” kepada militer China, kata jaksa.

China mengklaim Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai wilayahnya dan telah meningkatkan tekanan militer dan politik terhadap pulau tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Kedua belah pihak berpisah pada 1949 setelah perang saudara dan sejak itu saling memata-matai.

Tiga dari terdakwa dituduh merekrut prajurit aktif untuk mengumpulkan informasi militer guna “mengembangkan jaringan untuk China,” kata Kantor Kejaksaan Tinggi Taiwan dalam sebuah pernyataan.

Tentara Taiwan memberi hormat saat perayaan Hari Nasional di depan Gedung Kepresidenan di Taipei pada 10 Oktober 2021. (Foto: AP)


Tentara Taiwan memberi hormat saat perayaan Hari Nasional di depan Gedung Kepresidenan di Taipei pada 10 Oktober 2021. (Foto: AP)

Empat perwira yang mereka rekrut juga didakwa menyerahkan “beberapa item rahasia militer” ke Beijing dengan imbalan uang, katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut jenis rahasia tersebut.

Dua orang lainnya – keduanya perwira aktif – diduga merekam video “perang psikologis” untuk Beijing di mana mereka berkata: “Saya bersedia menyerah kepada Tentara Pembebasan Rakyat”.

“Tentara aktif yang berjanji setia kepada Partai Komunis China adalah tindakan yang sangat keliru,” kata jaksa.

Terdakwa terakhir dituduh mencuri rahasia militer dari brankas di tempat kerjanya.

“Semua terdakwa pernah atau sedang menjalani tugas militer namun mereka mengkhianati negara dan rakyatnya hanya karena kepentingan pribadi… sehingga sangat membahayakan keamanan,” kata jaksa.

“Kami meminta pengadilan untuk menjatuhkan hukuman yang lebih berat sebagai peringatan.”

Dakwaan yang dikeluarkan pada Senin ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian kasus spionase yang terjadi di pulau tersebut.

Bulan lalu, seorang pensiunan kolonel angkatan udara dijatuhi hukuman 20 tahun penjara karena menjadi mata-mata Beijing dan menyerahkan informasi rahasia keamanan nasional.

Pada bulan Agustus, pasangan ayah-anak didakwa merekrut dua tentara yang diduga membantu mereka mengumpulkan informasi bagi China tentang “Han Kuang”, latihan militer terbesar di pulau itu. [ab/uh]

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours